Mewujudkan Ribuan Unicorn Milik Anak Bangsa dan Generasi Milenial

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menunjuk para menterinya pada 23 Oktober 2019. Salah satunya adalah Teten Masduki. Ia ditugaskan sebagai Menteri Koperasi dan UKM dalam Kabinet Indonesia Maju (KIM).

Hal itu cukup menimbulkan pertanyaan banyak pihak. Mantan Kepala Staf Kepresidenan (2015-2018) itu dianggap kurang memiliki kapasitas yang cukup untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai menteri yang mengurusi ekonomi rakyat karena tidak pernah bersentuhan langsung dengan pelaku koperasi dan UMKM.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Ekonomi Kerakyatan dan Koperasi Milenial, Frans Meroga Panggabean, MBA mengatakan bahwa semua pihak harus memandang segala sesuatu dari sudut pandang positif dan dipenuhi semangat optimisme.

“Latar belakang Chief Teten Masduki sebagai aktivis anti korupsi dan penggiat pergerakan minimal menunjukkan bahwa beliau orangnya gigih, berkomitmen tinggi dan dekat dengan rakyat kecil,” ujar Frans Meroga di Hotel Grand Sahid Jakarta, Jumat, 25 Oktober 2019.

Frans Meroga yang juga Wakil Ketua Umum Generasi Optimis (GO) Indonesia bidang Perekonomian melanjutkan bahwa kepercayaan Presiden Jokowi kepada Teten Masduki didasari keyakinan bahwa pria kelahiran Garut, 6 Maret 1963 ini akan berkomitmen tinggi dalam mengemban tugasnya.

“Presiden percayakan saya memajukan ekonomi rakyat. Ekonomi kita kan ditopang ekonomi kerakyatan. Beliau ingin itu ditangani serius, saya dianggap paling serius,” jelas Teten sebelum pelantikan Menteri, Rabu, 23 Oktober 2019.

Agar keraguan tersebut tidak berlarut-larut, Frans mengatakan bahwa Teten harus segera memberikan bukti kepada seluruh rakyat Indonesia kalau Presiden tidak salah mempercayakan dirinya.

“Kalau Chief Teten bertekad memajukan ekonomi kerakyatan, beliau seyogyanya mengerti substansi dari ekonomi kerakyatan,” ujar Frans. Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi rakyat dengan kegiatan ekonomi swadaya dalam mengelola sumber daya yang dapat diusahakan dan dikuasai.

Menurut Frans, rrakyat harus memiki kekuatan untuk menjalankan kegiatan ekonomi, jadi keberpihakan pemerintah dibutuhkan secara nyata dan konkrit.

“Keberpihakan pemerintah kepada ekonomi rakyat pun wajar dan layak mengingat Koperasi adalah tulang punggung perekonomian bangsa dan telah terbukti beberapa kali menjadi penyelamat menghadapi krisis multi dimensi Indonesia,” tutur Frans yang lulusan dari University of Grenoble, Perancis ini.

Sejalan dengan perkembangan jaman dan teknologi pun, Frans meyakini bahwa bentuk ekonomi koperasi akan sangat cocok.”Nilai-nilai koperasi, seperti demokrasi, kesetaraan, keadilan dan lainnya, selaras dengan gaya hidup generasi milenial saat ini,”ungkap Frans.

“Milenial merupakan generasi yang menolak bentuk feodalisme dalam semua hal termasuk ekonomi. Bagi para milenial yang suka gaya hidup demokratis dan egaliter, bentuk koperasi sangatlah cocok dibanding korporasi, di mana jelas pemilik modal berkuasa penuh,” kata Frans semangat.

Semangat ekonomi gotong royong sejatinya telah menjadi dasar dari gerakan koperasi Indonesia guna terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam proses pengambilan keputusan pun didorong melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat, sehingga bila harus voting sekalipun, jumlah besarnya kontribusi masing-masing anggota tak akan menjadi pertimbangan. Prinsip dasarnya sederhana adalah one man, one vote berlaku pada koperasi. Sangat berbeda dengan korporasi yang one share, one vote.

Dalam era revolusi industri 4.0 saat ini pun, Frans Meroga berpendapat koperasi akan muncul sebagai solusi para pelaku usaha start-up berbasis aplikasi digital. Karena ternyata di balik sangat pesatnya pertumbuhan model usaha start up dan didukung pula oleh sederet program pemerintah, ternyata para pelaku start up juga terjebak dalam dilema.

Di satu sisi mereka membutuhkan suntikan modal dari investor untuk kembangkan bisnisnya, tapi di sisi yang lain mereka khawatir keberadaannya akan tergeser dan bahkan terdepak dari perusahaan yang dirintisnya.

Dalam modus kapitalisme itu, modal mendikte segalanya. Sayangnya, itu semua dilindungi dan disahkan undang-undang. Mereka, start up yang berbasis perseroan terbatas atau PT, tunduk di bawah undang-undang perseroan No. 40 Tahun 2007. Diktumnya yakni pemilik saham mayoritas adalah penentu kebijakan.

Bila disederhanakan, puncak aturan main dalam perseroan itu cuma satu: Anda menang bila punya uang banyak! Pengambilan keputusan dalam perseroan prinsipnya sangat sederhana, siapa pemilik saham terbesar, dia yang menentukan. Yang dihitung adalah kepemilikan saham para pihak, bukan seberapa banyak orang.

Sebaliknya, di bawah Undang Undang (UU) No. 25 Tahun 1992, status kepemilikan koperasi tidak dihitung berdasar besar-kecilnya saham karena koperasi adalah perusahaan berbasis orang, sehingga tidak melihat jumlah sahamnya, melainkan orangnya. Kalau founder memiliki saham Rp100 miliar, lantas menerima investasi Rp1 triliun, investor tak lantas menang.

“Solusi yang menarik, bukan? Dengan mengawinkan antara start up dengan koperasi menjadi start up-cooperative, terjawab sudah kekhawatiran para milenial dan pelaku start up tanah air,” jelas tim penulis buku “The Ma’ruf Amin Way” ini.

Perwujudan visi Indonesia Maju 2030 memang tidak terlepas dari penguatan ekonomi kerakyatan. Frans Meroga mengatakan bahwa Generasi Optimis (GO) Indonesia dan seluruh pelaku ekonomi kerakyatan lain siap mendukung Menteri Koperasi dan UKM yang baru, Teten Masduki.

Harapannya dalam menjalankan tugasnya, mulai sekarang benar terlihat dengan jelas keberpihakan pemerintah kepada koperasi dan UMKM sebagai bagian dalam ekonomi kerakyatan.

“Jadi sudah jelas bakal sekeren apa nanti Indonesia Maju 2030. Akan ada 1.000 unicorn yang berkontribusi atas setengah dari pertumbuhan ekonomi yang membuat Indonesia memiliki total PDB 3 trilliun dolar AS pada 2030 dan menempatkan Indonesia pada posisi lima besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia,” harap Frans Meroga yang juga Vice President dari Nasari Cooperative Group.

“Yang membuat semakin keren adalah 1.000 unicorn tersebut akan tetap menjadi milik anak bangsa karena berbentuk koperasi milenial. Benar-benar terlalu keren untuk tidak diwujudkan.” lanjut Frans.

“Pimpinlah koperasi di jalur yang benar Pak Teten. Kami berharap banyak padamu, Chief,” pungkas Frans.

About the Author: Mr. Alvharezky

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *