Keren, 4 Brand Fashion Karya Anak Bangsa yang Berdampak Sosial Nyata

Siapa bilang fashion hanya untuk senang-senang? Lewat berbagai karya yang diciptakan, fashion item bisa menjelma menjadi cara menunjukkan identitas seseorang, bahkan membantu orang lain.

Begitu pula dengan sederet cerita dari sejumlah brand lokal. Tak hanya menghadirkan produk yang menarik hati, brand tersebut juga membawa misi sosial yang berdampak signifikan pada masyarakat yang selama ini terpinggirkan.

Keempat brand yang juga menjadi binaan DBS Foundation adalah Du’Anyam, Mycotech, SukkhaCitta dan Toraja Melo memulai bisnis mereka untuk memberikan dampak sosial nyata bagi para pengrajinnya. Keempat bisnis tersebut tidak hanya memfokuskan dari sisi bisnis itu sendiri, namun juga bagaimana melestarikan warisan lingkungan dan warisan budaya yang ada.

“Kami melihat wirausaha sosial tidak hanya merupakan salah satu pendorong perekonomian negeri, namun juga institusi yang membantu menjawab berbagai isu sosial di Indonesia,” ujar Executive Director, Head of Group Strategic and Marketing Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Kamis, 26 September 2019.

Seperti apa kiprah mereka? Simak detailnya berikut ini.

1. Aksesori Stylish dari Jamur Tempe

Fashion item yang terbuat dari bahan dasar kulit hewan masih menjadi andalan bagi beberapa brand besar. Akan tetapi, untuk memproduksi fashion item dengan bahan dasar kulit hewan asli membutuhkan beberapa bahan kimia pendukung yang berpotensi mencemari lingkungan.

Untuk itu, Mycotech, wirausaha sosial asal Bandung menggunakan limbah pertanian berbahan dasar jamur tempe sebagai pengganti kulit yang dinamakan Mylea (Mycelium Leather). Kulit Mylea ini tidak kalah stylish dan juga tahan lama seperti kulit hewan.

Menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan membuat fashion item seperti tas tangan, tali jam tangan, dan dompet dari Mycotech terbilang ramah lingkungan.

Sebelumnya, MyCotech telah membuktikan bahwa jamur Mylea juga dapat digunakan untuk bahan bangunan yang tidak kalah kokoh dengan produk pertambangan. Mereka berusaha menciptakan pengganti gypsum sebagai bahan bangunan menjadi jamur di mana proses produksinya diatur secara inklusif.

Petani berskala kecil direkrut sebagai rekan untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari limbah pertanian yang sebelumnya tidak pernah mereka anggap berharga.

2. Tas Anyaman Klasik karya Mama-Mama Flores

Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal dengan keindahan alam yang sangat memanjakan mata. Di balik keindahan alam tersebut, terdapat pula warisan budaya Indonesia berupa kerajinan anyaman yang sudah turun temurun digeluti oleh para ibu di NTT.

Melihat keindahan warisan budaya anyaman, Du’Anyam, wirausaha sosial asal Jakarta memperkenalkan serta melestarikan budaya anyaman Flores kepada masyarakat luas dengan desain-desain yang modern dan stylish. Brand tersebut bertujuan ingin mengentaskan kemiskinan di daerah Flores melalui pemberdayaan perempuan di daerah pedesaan di Indonesia yang memiliki keterampilan tenun anyaman tradisional tetapi belum memiliki akses pasar yang memadai.

Du’Anyam mampu menjembatani kesenjangan ini bagi para pengrajin, selain itu juga memberi mereka akses keuangan ke layanan kesehatan dan gizi yang lebih baik. Bersama lebih dari 500 wanita di Pulau Flores memproduksi berbagai produk anyaman untuk fashion, perabot rumah tangga, dan suvenir. Fashion item yang paling populer adalah pouch anyaman, bucket bag dan dompet anyaman yang etnik dan juga unik.

3. Pakaian Nyaman Minim Limbah

Tidak banyak dari kita yang mengetahui cerita di balik pakaian fashion yang kita kenakan, apalagi mengenal tokoh yang membuat pakaian yang kita pilih dan beli di toko maupun online store. Nah, brand SukkhaCitta menghadirkan ragam pakaian dan aksesori hasil dari pengrajin desa di daerah Jawa dan Flores.

SukkhaCitta memproduksi kain dan pakaian tradisional Indonesia premium dengan mendorong penduduk setempat, serta menggunakan bahan premium dengan desain yang stylish dan timeless. Ada pakaian atasan, bawahan, outer serta aksesori, semuanya dibuat langsung oleh perajin. Hasil penjualannya pun dapat langsung diterima oleh mereka.

Menggunakan bahan organik dan pewarna alami, SukkhaCitta menerapkan zero waste sehingga limbah dari proses produksi pakaian mereka tidak mencemari lingkungan.

4. Kain Tenun Toraja untuk Dikenakan Sehari-hari

Siapa yang tak kenal akan keindahan tenun Toraja? Yup, brand Toraja Melo mengolah tenun yang biasa digunakan pada saat acara-acara besar atau tertentu kini juga bisa menjadi pilihan pakaian sehari-hari, lho.

Toraja Melo bertujuan untuk melestarikan kain tenun tradisional dengan menginovasikan pengaplikasian kain ke banyak produk fashion berbeda. Brand ini berfokus untuk memberdayakan perempuan dalam kegiatan mereka, terutama untuk juga mengadvokasi hak perempuan.

Produk mereka sekarang populer tidak hanya di Toraja tetapi juga di seluruh Indonesia. Toraja Melo pertama kali didirikan dengan misi pengentasan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi di Indonesia dengan mata pencaharian yang berkelanjutan bagi penduduk desa yaitu menciptakan produk tenunan tangan yang berkualitas.

About the Author: Mr. Alvharezky

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *