Karakter Kain-Kain Tradisional di Mata Oscar Lawalata

Kecintaan desainer Oscar Lawalata pada kain-kain tradisional bermula dari 20 tahun silam. Sejak saat itu, ia pun berusaha mengumpulkan, mengoleksi, hingga berupaya untuk melestarikan salah satu budaya Nusantara ini.

Terdapat beragam jenis kain tradisional Indonesia mulai dari batik, ulos, songket, hingga tapis yang tersebar di berbagai wilayah di Tanah Air. Lantas, apa yang membedakan karakter kain Indonesia dengan di negara lain?

“Kita harus mensyukuri para penenun dan pembatik masih terus meneruskan. Di Jepang, kainnya bagus-bagus tapi mereka punya masalah peralihan profesi,” kata Oscar Lawalata di Senayan City, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019.

Ia melanjutkan, di Negeri Sakura saat saking diapresiasinya, jika ada tenun harganya terlampau tinggi dan orang tidak sanggup beli. Namun, profesi itu makin lama makin hilang.

“Di kita masih ada dan yang membedakan adalah kita punya motif-motif sendiri, perajin yang masih ada,” lanjut Oscar.

Di sisi lain, kata Oscar, penting untuk mengetahui proses di balik pembuatan kain-kain tradisional. Hal tersebut merupakan sebagai salah satu apresiasi dan memberi edukasi kepada generasi muda.

“Proses harus dibicarakan, proses dari kapas dipilin jadi benang, dari benang dicelup dengan warna-warna alam, dedaunan dengan pembuatan sekian bulan,” tambahnya.

Upaya Pelestarian Kain-Kain Tradisional

Ada berbagai kampanye yang dilakukan Oscar Lawalata untuk melestarikan kain-kain tradisional Indonesia. Salah satunya dengan menggelar pameran kain bertajuk I Am Indonesian Future: Aku dan Kain yang berkolaborasi dengan fotografer Glenn Prasetya.

Pameran ini memamerkan koleksi kain Oscar sebanyak 33 kain tradisional dari berbagai wilayah di Nusantara. Pameran berlangsung mulai 3 hingga 31 Oktober 2019 di Senayan City Level 1, Jakarta.

Salah satu tujuan dari pameran kain ini adalah memberi influence kepada generasi muda lewat visual story untuk koleksi autentik kain-kain tradisional Indonesia. Selain itu juga untuk mengenalkan budaya Tanah Air kepada kaum muda.

“Saya challenge mereka, saya kasih lihat kain Nusantara dan mereka tahu ternyata Aceh punya songket, Nusa Tenggara Timur ada tenun dari Biboki, mereka jadi mau tahu, ini kain apa,” kata Oscar.

Selain itu, peran museum penting dikatakannya juga tak kalah penting. “Orang mau menilik ke masa lalu. Nanti akan terkoneksi sendiri ke pikiran masing-masing. Package lewat kain itu perlu,” tambahnya.

About the Author: Mr. Alvharezky

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *